Wednesday, 4 September 2013

Peninggalan Sejarah Hindu

Kamu pasti senang mendengar cerita dari kakek dan nenekmu. Mungkin cerita tentang kerajaan-kerajaan tempo dulu. Mungkin juga pada waktu perang kemerdekaan. Kejadian atau peristiwa penting yang terjadi pada masa lalu itulah yang disebut sejarah. Sejarah dapat memengaruhi kehidupan saat ini. Sejarah juga dapat memengaruhi masa mendatang. Apabila peristiwa sejarah diurutkan kejadiannya, maka kita dengan mudah memahaminya.

Sumber sejarah dapat kamu peroleh dari para pelaku atau saksi sejarah. Selain itu, dari catatan berupa prasasti serta kitab-kitab kuno. Dapat pula dari benda-benda sejarah, seperti arca, senjata, bangunan, dan candi. Benda-benda masa lampau yang masih dapat dilihat saat ini disebut peninggalan sejarah. Dapatkah kamu menyebutkan peninggalan sejarah di Indonesia?
Mari kita uraikan satu demi satu sejarah Indonesia sejak masa Hindu hingga Buddha. Selain itu, kitajuga akan menelusuri peninggalan pada masa tersebut.

A Peninggalan Sejarah Bercorak Hindu
Di Indonesia banyak sekali ditemukan berbagai bentuk peninggalan sejarah bercorak Hindu. Kamu pasti bertanya, sejak kapan dan bagaimana ajaran Hindu masuk ke Indonesia? Lalu apa saja bentuk-bentuk peninggalan sejarah bercorak Hindu? Jangan khawatir kamu akan mendapat jawabannya pada pembahasan kali ini. Untuk itu, simaklah dengan saksama karena kita akan bersama-sama kilas balik ke masa lalu.

1. Perkembangan Ajaran Hindu di Indonesia
Perkembangan ajaran agama Hindu berawal sekitar tahun 1500 sebelum Masehi (SM). Ditandai dengan datangnya bangsa Yunan. Bagaimana mereka bisa sampai ke Indonesia?
Mereka memasuki wilayah Nusantara dengan perahu layar. Kelompok ini datang dari Kampuchea (Kamboja). Mereka mendirikan rumah dan hidup secara berkelompok dalam masyarakat desa dan menetap di Nusantara.
Kebudayaan mereka sudah cukup maju. Mereka sudah mengenal bercocok tanam. Mereka juga berdagang dan membuat peralatan dari tanah liat serta logam. Mereka inilah nenek moyang bangsa Indonesia.

Kepercayaan yang mereka anut ialah animisme dan dinamisme. Animismeadalah kepercayaan yang memuja roh nenek moyang atau roh halus.Dinamismeadalah pemujaan terhadap benda-benda yang dianggap memiliki kekuatan gaib. Misalnya keris, tombak, batu akik, dan patung. Kapan ajaran Hindu masuk ke Indonesia? Ajaran Hindu masuk ke Indonesia sejak permulaan masehi. Agama Hindu dikenal penduduk Indonesia melalui hubungan dagang dengan India.



Kitab suci agama Hindu yaitu Weda. Ajaran Hindu merupakan ajaran yang memuja banyak dewa. Dewa-dewa yang dianggap menempati posisi paling tinggi yaitu Dewa Brahma, Dewa Wisnu, dan Dewa Syiwa. Ketiga dewa itu disebut Trimurti atau tiga dewa yang bersatu. Trimurti diwujudkan dalam bentuk patung.

Masyarakat dalam ajaran agama Hindu mengenal adanya kasta. Kasta yaitu susunan kelompok masyarakat sesuai tingkatan kehidupan sosial. Kasta-kasta dalam masyarakat Hindu adalah sebagai berikut.
a. Kasta Brahmana terdiri para pendeta.
b. Kasta Ksatria terdiri atas golongan para raja, prajurit, dan bangsawan.
c. Kasta Waisya terdiri atas golongan pemilik modal, pedagang kaya, dan petani kaya.
d. Kasta Sudra terdiri atas golongan buruh dan petani miskin.

2. Kerajaan Hindu di Indonesia dan Peninggalannya
Kawan-kawan, pengaruh ajaran dan budaya Hindu terhadap budaya Indonesia sangat kuat. Bahkan, memengaruhi kehidupan masyarakat terutama dalam hal pemerintahan. Hal ini ditunjukkan dengan berdirinya kerajaan-kerajaan bercorak Hindu. Nah, mari bersama-sama melacak kerajaan-kerajaan Hindu yang pernah ada di Indonesia.

a. Kerajaan Kutai
Kerajaan Kutai terletak di Muara Kaman, di tepi Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Kerajaan Kutai merupakan kerajaan Hindu tertua di Indonesia. Kerajaan Kutai didirikan oleh Kudungga pada abad ke-4 M. Bukti berdirinya Kerajaan Kutai adalah ditemukannya yupa. Yupa yaitu tiang batu pengikat hewan korban yang dipersembahkan oleh para brahmana. Yupa ditulis dengan huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta.

Berdasarkan tulisan dalam yupa, raja Hindu pertama di Kerajaan Kutai adalah Aswawarman. Ini dibuktikan oleh gelar yang dimilikinya, yakni wangsakertaatau pendiri keluarga kerajaan (dinasti). Dari tulisan pada yupa tersebut dapat disimpulkan adanya tiga generasi. Silsilah dimulai dari Kudungga yang mempunyai anak bernama Aswawarman. Aswawarman mempunyai tiga anak, satu di antaranya Mulawarman. Pada masa pemerintaha Mulawarman, Kerajaan Kutai berkembang menjadi kerajaan besar. Hal ini diketahui dari prasasti yang ditemukan. Bukti-buktinya dapat ditunjukkan sebagai berikut.
1) Raja mengadakan upacara waprakeswara (sebidang tanah suci) setiap tahun.
2) Raja membagi hadiah kepada para brahmana berupa tanah, ternak, dan emas dengan adil.

Mulawarman memerintah kerajaan dengan bijaksana. Semasa pemerintahannya, rakyat
hidup cukup makmur. Sebagai ucapan terima kasih, rakyat melakukan hal-hal
seperti berikut.
1) Mengadakan kenduri untuk keselamatan raja.
2) Membuat prasasti atau yupa yang berisi tulisan-tulisan tentang raja mereka.

Para brahmana juga membangun sebuah batu bertulis. Hal ini sebagai ungkapan terima kasih kepada Raja Mulawarman. Raja telah memberi hadiah kepada mereka berupa minyak kental, lampu, dan sapi sebanyak 20.000 ekor. Peninggalan sejarah Kerajaan Kutai sebagai kerajaan Hindu di antaranya sebagai berikut.
1) Tujuh buah yupa yang ditemukan di daerah sekitar Muara Kaman pada tahun 1879 dan 1940.
2) Kalung Cina yang terbuat dari emas.
3) Arca-arca bulus.
4) Arca-arca Buddha dari perunggu.
5) Arca batu.

b. Kerajaan Tarumanegara
Kerajaan Tarumanegara merupakan kerajaan Hindu tertua di Pulau Jawa. Keberadaan kerajaan ini dapat dilacak dengan ditemukannya tujuh buah prasasti. Selain itu, dari sumber-sumber berita dari luar negeri. Kerajaan Tarumanegara terletak di tepi Sungai Citarum, Bogor, Jawa Barat. Kerajaan Tarumanegara berdiri pada abad ke-5 M. Wilayahnya meliputi Karawang, Jakarta, Bogor, dan Banten. Raja yang terkenal dari Tarumanegara adalah Purnawarman. Raja Purnawarman menganut agama Hindu aliran Wisnu. Mata pencaharian pokok penduduk Tarumanegara adalah bertani dan berdagang. Namun, para petani sering gagal panen karena dilanda banjir.

Pada tahun ke-22 masa pemerintahannya, Purnawarman membangun saluran air. Tujuan pembangunan saluran itu untuk mengairi sawah dan mencegah banjir. Saluran itu bernama GomatidanChandrabagha. Pembuatannya berlangsung selama 21 hari. Panjang saluran 6.112 tombak (11 km). Coba kamu bayangkan, saluran sepanjang itu dikerjakan dalam waktu singkat!

Selesainya pembangunan saluran air ditandai penyerahan 1.000 ekor lembu kepada para brahmana. Raja Purnawarman digambarkan sebagai raja yang gagah berani. Ia juga tegas menghadapi masalah dan musuh. Kerajaan Tarumanegara selalu mengadakan hubungan baik dengan bangsa lain. Misalnya dengan Cina. Hal ini terbukti dalam catatan bangsa Cina dan Prasasti Tarumanegara. Selain itu, penuturan Fa-Hsien, seorang musafir Buddha dari Cina.

Menurut Fa-Hsien, di Tarumanegara terdapat lebih dari satu agama dan
kepercayaan. Ajaran Hindu yang berkembang di Tarumanegara diajarkan oleh
Rahib Gunawarman.

Kerajaan Tarumanegara mempunyai banyak peninggalan sejarah. Semua
peninggalan itu dapat menunjukkan keberadaan kerajaan Tarumanegara.
Peninggalan yang dimaksud antara lain sebagai berikut.
1) Prasasti Ciaruteun
Ditemukan di Ciampea, Bogor, Jawa Barat. Pada
prasasti ini terdapat telapak kaki Raja Purna-warman dan lukisan laba-laba. Raja Purnawarman dianggap sebagai perwujudan Dewa Wisnu.


2) Prasasti Jambu
Ditemukan di Bukit Koleangkak, 30 km sebelah barat daya Kota Bogor. Pada prasasti ini tertulis kata tarumayam (Tarumanegara).
3) Prasasti Lebak (Cidanghiang)
Ditemukan di Kampung Lebak, Pandeglang, Banten. Prasasti ini menyebutkan bahwa Raja Purnawarman adalah raja yang agung, pemberani, dan perwira.
4) Prasasti Kebon Kopi
Ditemukan di Kampung Muara Hilir, Bogor. Pada prasasti ini terdapat lukisan telapak kaki Airawata (gajah kendaraan Dewa Wisnu).
5) Prasasti Tugu
Ditemukan di Desa Tugu, Cilincing, Jakarta Utara. Prasasti ini memiliki tulisan terpanjang. Prasasti ini menceritakan pembuatan saluran air (Gomati dan Chandrabhaga) oleh Raja Purnawarman.
6) Prasasti Pasir Awi
Ditemukan di Pasir Awi, Bogor, Jawa Barat. Prasasti ini terdapat lukisan tapak kaki. Prasasti ini belum bisa dibaca karena dalam huruf ikal.
7) Prasasti Muara Cianten
Ditemukan di Muara Cianten, Bogor, Jawa Barat. Seperti Prasasti Pasir Awi, prasasti ini juga belum bisa terbaca.
8) Selain prasasti juga ditemukan arca-arca. Misalnya arca Rajarsi ditemukan di Jakarta. Di Desa Cibuaya ditemukan arca Wisnu Cibuaya I dan arca Wisnu Cibuaya II.


c. Kerajaan Mataram Kuno
Kerajaan Mataram Kuno berdiri sekitar abad ke-8 M. Kerajaan ini terletak di pedalaman Jawa Tengah. Bukti keberadaan kerajaan ini tertulis dalam Prasasti Canggal dan Prasasti Balitung (Mantyasih). Berdasarkan catatan pada prasasti, kerajaan bermula sejak pemerintahan Raja Sanjaya yang bergelar Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya. Prasasti Canggal juga mengungkapkan pendirian lingga di Desa Kunjarakunja oleh Raja Sanjaya. Sebelumnya,

Kerajaan Mataram Kuno dipimpin oleh seorang raja bernama Sanna. Raja Sanna memerintah rakyat dengan bijaksana. Kerajaannya kaya padi dan emas. Oleh karena itu, Pulau Jawa mendapat sebutan Jawadwipa. Peninggalan sejarah Kerajaan Mataram sangatbanyak. Di antaranya berupa Candi Gedong Songo, kompleks Dieng, dan komplek Candi Prambanan.
Kehidupan rakyat cukup makmur terbukti banyaknya candi-candi.

d. Kerajaan Kediri
Pada tahun 1019 M terdapat Kerajaan Kahuripan yang dipimpin oleh Raja
Airlangga. Ia mempunyai tiga orang anak yaitu Sanggramawijaya, Samarawijaya, dan Mapanji Garasakan.

Awalnya, Airlangga menurunkan tahta kepada Sanggramawijaya. Namun, Sanggramawijaya tidak bersedia. Ia memilih jalan hidupnya sebagai pertapa. Sanggramawijaya mendapat julukan Raja Sucian atauDyah Kili Suci. Namun,

Airlangga masih mempunyai dua anak lainnya. Kemudian Airlangga membagi  kerajaan menjadi dua bagian. Hal ini untuk menghindari perang saudara. Pada tahun 1041 M, Mpu Bharada membagi Kerajaan Kahuripan atas perintah Airlangga. Kerajaan Panjalu atau Kediri yang beribu kota di Daha diserahkan

Samarawijaya. Kerajaan Jenggala atau Kahuripan yang beribu kota di Kahuripan diserahkan Mapanji Garasakan. Airlangga selanjutnya mengasingkan diri menjadi pertapa dengan nama Resi Gentayu. Pada tahun 1049, Airlangga wafat dan dimakamkan di Candi Belahan.
Berikut ini raja-raja yang pernah memerintah Kediri.


0 komentar:

Post a Comment